Langsung ke konten utama

The Old Guard 2: Film yang Mengkhianati Luka Quỳnh dan Menyembunyikan Dosa Andy



Ketika The Old Guard pertama kali tayang pada 2020, film tersebut memperkenalkan dunia pada sekelompok prajurit abadi yang hidup dalam bayang-bayang sejarah. Ceritanya kuat, emosional, dan penuh aksi. Tapi yang paling menggugah adalah kehadiran tokoh misterius bernama Quỳnh — seorang immortal wanita Asia yang dikurung dalam peti besi dan tenggelam selama berabad-abad. Tragedinya menjadi luka yang membayangi tokoh utama, Andy, dan menciptakan ekspektasi besar bagi sekuelnya.


Sayangnya, The Old Guard 2 justru mengabaikan potensi itu. Film ini bukan hanya gagal dalam membangun karakter Quỳnh sebagai sosok yang tragis dan kuat, tapi juga gagal secara moral. Dan bagi saya, penjahat sejati dalam film ini bukanlah CEO jahat atau organisasi farmasi kejam — melainkan tokoh utama itu sendiri: Andy.


---

Quỳnh: Dari Sosok Misterius Menjadi Karakter Lemah

Bagi penonton yang menanti kelanjutan kisah Quỳnh, film ini seharusnya menjadi panggung bagi trauma dan kemarahan yang telah terpendam selama ratusan tahun. Ia mengalami penyiksaan psikologis paling mengerikan yang bisa dibayangkan: terkurung dalam keabadian di dasar laut. Tak bisa mati, tak bisa bergerak, tak bisa bicara, hanya menunggu hari demi hari sambil dihancurkan oleh rasa sepi.

Tapi apa yang kita dapatkan? Quỳnh yang kembali dalam The Old Guard 2 justru tampil lemah secara emosional, mudah dipengaruhi, dan kehilangan arah. Karakternya tidak diberikan kedalaman psikologis yang layak. Padahal trauma sebesar itu seharusnya menjadikannya sosok yang sangat kuat — atau sangat rusak. Dalam film ini, dia malah digambarkan seperti seseorang yang butuh diselamatkan… lagi.

Yang lebih menyakitkan adalah saat Andy hanya berkata “maaf” kepada Quỳnh. Setelah 500 tahun penderitaan, hanya itu? Tidak ada dialog emosional yang menjelaskan kenapa Andy tak pernah mencarinya. Tidak ada air mata. Tidak ada momen merenung. Tidak ada rasa bersalah yang tulus. Dan Quỳnh? Ia langsung luluh, seolah kata “maaf” itu menghapus segalanya.

Sebagai penonton, saya merasa dipermainkan. Quỳnh yang seharusnya menjadi simbol kekuatan dan luka yang tak terobati, malah dijadikan pion dalam konflik kecil yang cepat selesai.


---

Discord: Penjahat yang Tak Pernah Jahat

Tokoh Discord, CEO perusahaan farmasi yang ingin memanfaatkan DNA para immortal, sebenarnya memiliki potensi sebagai penjahat besar. Tapi film ini pun gagal memberinya arah yang jelas. Kita tidak pernah tahu apa sebenarnya motivasi terdalam Discord. Dia marah karena kehilangan keabadiannya? Tapi kepada siapa dia ingin balas dendam? Tak ada penjelasan konkret.

Yang menarik justru fakta bahwa Discord-lah yang membebaskan Quỳnh dari penderitaannya. Ia membuka peti besi dan membawanya kembali ke dunia. Ia tidak menyiksa Quỳnh. Ia tidak memaksanya. Justru, di saat Andy mengabaikan Quỳnh selama lima abad, Discord-lah yang hadir dan mengulurkan tangan.

Ini membuat saya bertanya: siapa sebenarnya penjahat dalam cerita ini?

Discord bukan sosok jahat yang ingin menghancurkan dunia. Ia seperti anak muda yang sedang mencari arah hidup. Tindakannya memang tidak sepenuhnya benar, tapi setidaknya ia punya keberanian untuk bertindak ketika Andy hanya diam.


---

Andy: Sang Pemimpin yang Tidak Pernah Dihakimi

Di permukaan, Andy digambarkan sebagai pemimpin yang bijaksana, kuat, dan berpengalaman. Tapi jika kita melihat lebih dalam, justru Andy adalah sumber dari banyak luka dalam film ini. Ia adalah tokoh superior yang memegang kendali moral mutlak — seolah-olah apa pun yang ia lakukan selalu benar, termasuk saat ia membiarkan Quỳnh terkubur hidup-hidup tanpa usaha menyelamatkan.

Film ini tidak pernah memaksa Andy untuk mempertanggungjawabkan keputusannya. Ia hanya diberikan satu adegan ringan, berkata “aku menyesal” — dan selesai. Padahal, secara moral, ini adalah kejahatan besar. Bukan karena Andy sengaja menghukum Quỳnh, tetapi karena ia tidak melakukan apa-apa. Kelalaian yang berlangsung selama 500 tahun.

Dan saat Quỳnh akhirnya bangkit, marah, dan mengguncang keseimbangan tim, Andy tidak bersikap sebagai seseorang yang berusaha menebus kesalahannya. Ia malah memaksa Quỳnh untuk kembali. “Pulanglah,” katanya. Padahal bagi Quỳnh, “rumah” itu adalah tempat yang membuangnya ke neraka.

Apakah Andy pernah merendahkan diri? Tidak. Apakah Andy pernah memberikan ruang bagi Quỳnh untuk memilih jalannya sendiri? Tidak. Andy tetap menjadi pemimpin yang tak terbantahkan.


---

Kegagalan Moral Cerita

The Old Guard 2 gagal menyampaikan konflik batin dan moral yang seharusnya menjadi inti film. Ia mencoba menjual kisah penebusan, tetapi tidak pernah benar-benar membayar harga emosionalnya. Semua konflik terasa ringan, tanpa konsekuensi.

Tidak ada kematian besar. Tidak ada momen kehilangan. Tidak ada konfrontasi serius antara Quỳnh dan Andy yang membuat kita bisa berkata, “Ini klimaksnya!” Semuanya selesai terlalu mudah.

Quỳnh diredam. Discord dijatuhkan. Andy tetap unggul.

Sebagai penonton, saya merasa tidak diajak menyelami luka. Saya hanya diajak menonton parade kepalsuan.


---

Andai Saya yang Menulis Ulang…

Saya membayangkan versi The Old Guard 2 yang berbeda. Di mana Quỳnh kembali bukan sebagai korban, tapi sebagai pemimpin gerakan baru — ingin menggulingkan moral lama yang gagal melindunginya.

Ia membentuk kelompok immortal baru yang kecewa pada sistem lama. Andy, kini manusia biasa, tak punya cukup kekuatan untuk menandinginya. Mereka harus bertarung, tidak hanya secara fisik, tapi secara ideologi.

Di akhir cerita, mungkin Quỳnh dikalahkan. Tapi kata-katanya membekas di benak Nile:
“Jangan biarkan sejarah mengubur luka lagi.”

Ini bisa membuka jalan bagi The Old Guard 3 — di mana Nile mempertanyakan moralitas Andy, dan tim terpecah menjadi dua faksi: mereka yang ingin mempertahankan cara lama, dan mereka yang ingin membangun dunia baru.


---

Kesimpulan

Bagi saya, The Old Guard 2 bukan hanya film yang kurang dari sisi aksi atau cerita. Ia adalah film yang gagal memahami luka batinnya sendiri. Ia tidak berani menyentuh tema pengkhianatan, trauma, dan kekuasaan secara mendalam. Ia menutup luka dengan plester, lalu berharap kita puas.

Tapi saya tidak puas. Saya kecewa. Dan saya marah — bukan kepada Discord, bukan kepada Quỳnh, tapi kepada Andy. Karena sebagai pemimpin, ia tidak pernah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Ia tidak pernah dihukum oleh cerita. Dan ia tetap berdiri sebagai pahlawan, sementara korban-korbannya dibungkam.

Jika keabadian adalah kutukan, maka The Old Guard 2 adalah pengingat bahwa luka psikologis bisa lebih menyakitkan daripada kematian. Dan ketika film tidak memberi keadilan kepada karakter-karakternya, maka penontonnya akan merasa dikhianati.


---

> “Kamu tidak menyelamatkanku. Kamu meninggalkanku. Dan sekarang kamu ingin aku kembali? Tidak, Andy. Aku bukan bagian dari kisahmu lagi.”
— (Versi Quỳnh yang seharusnya ada)






Komentar

© 2020 Plotfilem

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.